
Anara lahir dari satu pertanyaan sederhana: kenapa pakaian untuk iklim tropis justru jarang dibuat di sini? Ini cerita tentang kain, mitra, dan produksi kecil kami.
Anara mulai dari rasa penasaran yang sederhana: kenapa pakaian yang paling cocok untuk iklim tropis — linen ringan, katun yang bernapas, potongan longgar — justru sering harus diimpor? Padahal bahan bakunya lewat di depan mata, dan penjahit-penjahit terbaik ada di kota kita sendiri. Maka kami mulai dari kain. Katun kami datang dari pemintal yang sudah puluhan tahun menenun untuk pasar lokal; linen kami pilih dari lot kecil yang bisa kami periksa gulungan per gulungan. Untuk syal dan beberapa detail, kami bekerja dengan mitra penenun ikat yang mengerjakan semuanya di alat tenun bukan mesin — karena itu tidak ada dua helai yang persis sama. Warna-warna kami sengaja kalem: terracotta, krem, olive, cokelat tanah. Sebagian karena selera, sebagian karena praktis — warna tanah memaafkan debu jalanan dan matahari, dan saling berpadu tanpa harus dipikirkan. Kami mewarnai dalam batch kecil supaya limbahnya terkendali dan setiap musim bisa kami koreksi. Produksi kami memang kecil, dan itu pilihan sadar. Satu potongan dikerjakan belasan, bukan ribuan. Artinya mitra penjahit kami bisa berhenti pada jahitan yang belum rapi, dan kami bisa berhenti pada model yang ternyata tidak perlu dibuat. Kalau sebuah kemeja habis, ia kembali saat kainnya siap — bukan saat gudang menuntut. Nama Anara kami pilih karena bunyinya sederhana dan mudah diingat, seperti pakaian yang ingin kami buat. Terima kasih sudah mampir; semoga ada satu potong yang menemanimu bertahun-tahun.